WISATA RELIGI PUNCAK KUTU-KUTU

Puncak Kutu-Kutu

 

WISATA RELIGI PUNCAK KUTU-KUTU

Puncak Kutu-kutu ini terletak di diatas perbukitan yang paling tinggi di nagari Sibarambang Jorong karimbang, untuk menuju puncak kutu-kutu menempuh perjalanan dengan jalan kaki sekitar 2 jam perjalanan dengan menempuh pendakian yang terjal dan berbatu-batu.

Di Nagari Sibarambang terdapa lima suku yaitu, Suku Dulimo , Patopang, Bendang, Sikumbang, dan Sumpadang, terdiri dari empat puluh buah rumah gadang (rumah adat), diantaranya bernama Rumah Gadang Gobah Kaum Dt. Pangulu Sati. Dari kaum ini ada seorang anak yang pergi merantau.

Setelah lama merantau dan tidak pulang ke kampung halaman, maka ibu dari anak tersebut sangat merindukan kedatangannya. Namun, tahun berganti tanpa kabar beritanya. Saking rindunya  ibu tersebut, beliau memutuskan ke sebuah bukit agar dapat memantau jikalau sang anak pulang dari rantau.

Menurut cerita turun- temurun, Ibu dan suaminya mendaki bukit dengan menunggang kuda. Sebelum mencapai puncak, beliau mengikatkan kuda tersebut di kaki bukit. Saat berada di puncak bukit, mereka melihat sekeliling, namun belum juga tampak tanda kehadiran sang anak yang dinanti. Maka, ibu tersebut kesal dalam duduk berdekatan seperti orang mencari kutu sambil melontarkan kata- kata kekesalannya. “Kalau anakku tidak pulang juga, biarlah aku menjadi batu di bukit ini”. Atas kuasa Allah SWT, perkataan mereka dikabulkan begitupun kuda yang juga berubah menjadi batu. Dari kejauhan, batu tersebut terlihat seperti orang yang mencari kutu sehingga diberi nama Puncak Kutu- Kutu. Keramatnya, Jika salah satu dari  tokoh 4 Jinih ( 4 jenis) yaitu Penghulu, Dubalang, Gumanti, Malin) meninggal dunia, maka akan jatuh bebatuan kecil yang terdengar ke pemukiman masyarakat sebagai pembawa kabar.

e-Pandawa Barentlitbang, Subbid Pariwisata, Budaya dan Potensi Pengembangan Daerah @2017